Secara global, diperkirakan terdapat 5 juta orang dengan lupus. Di Indonesia jumlah kasus penyakit lupus eritematosus sistemik yang tercatat mencapai 8.693 orang hidup dengan lupus atau meningkat dua kali dibandingkan dengan tahun 2004. Jumlah diyakinin adalah puncak gunung es karena banyak orang hidup dengan lupus tidak terdiagnosis. Menurut survey, 9 dari 10 penderita lupus adalah perempuan. Lupus terdapat dalam da sampai tiga kasus lebih banyak pada ras Afrika, Asia, Hispanik, dan Amerika asli. Lupus terdeteksi lebih banyak pada masa produktif, yaitu usia 15-44 tahun. Sejauh ini hanya 10 persen dari orang hidup dengan lupus yang memiliki saudara dekat (orang tua atau saudara) yang juga terkena atau mungkin terserang lupus. Hanya sekitar 5 persen dari bayi yang dilahirkan oleh orang hidup dengan lupus kemungkinan akan terkena penyakit ini.
Penyakit lupus eritematosus tidak menular, langka, bersigat seperti kanker. Belum diketahui secara pasti penyebab lupus. Namun, para penelit meyakini faktor genetic meningkatkan resiko terkena lupus. Faktor lingkungan juga bisa memicu lupus, diantaranya infeksi, obat-obatan, sinar ultraviolet, bahan kimia, stress, dan hormone. Sejauh ini ada beberapa tipe lupus. Meski tampak serupa, tiap tipe lupus mempunyai perbedaan gejala dan pengobatan. Lupus eritematosus sistemik dapat menyerang beberapa bagian tubuh termasuk kulit, paru-paru, ginjal, dan darah. Adapun discoid lupus erythematosus hanya menyerang kulit.

Tipe lain adalah drug induced lupus erythematosus yang terjadi setelah penderita mengonsumsi obat. Gejala penyakit lupus eritematosus sistemik hilang begitu penderita berhenti memakai obat penyebab lupus. Sementara it,u, neonatal lupus menyerang bayi yang batu lahir. Lupus dikenal sebagai penyakit dengan seribu wajah sehingga menyulitkan proses diagnosis. Tidak ada dua kasus lupus yang serupa. Hal tersebut disebabkan organ tubuh yang diserang antibody dalam tubuh bisa beragam dan itu juga menimbulkan manifestasi klinis berbeda.
Sinyal dan gejala pada penyakit lupus eritematosus sistemik ini berkembang secara perlahan atau kadang akut, bisa sementara atau permanen, tergantung dari organ tubuh mana yang terserang. Gejalanya dapat tersamar, bahkan bisa masuk masa remisi hingga mencapai beberapa tahun sebelum terdiagnosis. Beberapa gejala yang dijumpai adalah sakit pada sendi, demam, sendi bengkak, lelah berkepanjangan, ruam pada kulit, anemia, dan gangguan ginjal. Sejumlah gejala lain adalah sakit di dada saat tarik napas dalam, ruam bentuk kupu-kupu melintang pada pipi dan hidunh, sensitive pada matahari atau sinar, rambut rontok, jari jadi putih, atau biru pada saat dingin, stroke dan sariawan.
Lupus bisa menyebabkan trombosit jadi rendah, sakit kepala, stroke, dan keguguran. Penyakit otoimun ini juga bisa menyebabkan gangguan pembuluh darah kecil. Lupus mengganggu mekanisme pembekuan darah, darah mudah membeku yang menyebabkan stroke. Lupus sulit terdiagnosisi. Jika perempuan muda sakit dan tak juga kunjung sembuh meski bolak balik berobat ke dokter, ia patut diduga kena lupus. Sebagai contoh, penderita didiagosis demam berdarah karena trombositnya rendah dan ada bercak merah, tetapi tidak juga pulih.

Lupus atau systemic lupus erythematosus adalah penyakti yang kronis autoimun yang terjadi karena produksi antibodi (zat kekebalan tubuh) berlebihan.
