Ciri dan Kriteria Penyakit Lupus

Ciri dan Kriteria Penyakit Lupus – Secara sederhana, lupus erythematosus terjadi ketika tubuh menjadi alergi terhadap dirinya sendiri. Dalam istilah immunology dapat dikatakan, bahwa lupus adalah kebalikan dari apa yang terjadi pada kanker maupun AIDS. Pada lupus, tubuh melakukan reaksi yang berlebihan terhadap stimulus asing dan memproduksi banyak antibodi, atau protein-protein yang melawan jaringan tubuh. Karena itu, lupus disebut dengan penyakit autoimun.

 Ciri dan Kriteria Penyakit Lupus 1

Ciri dan Kriteria Penyakit Lupus 1

 Ciri dan Kriteria Penyakit Lupus 2

Ciri dan Kriteria Penyakit Lupus 2

 

Penyakit Lupus

Kadang-kadang reaksi kekebalan tubuh otomatis dari lupus hanya terbatas pada kulit dan mungkin mengakibatkan hasil tes darah ANA negatif. Kondisi ini disebut cuteneuos atau discoid lupus erythematosus (DLE). Meskipun ini bukan istilah yang akurat, namun membantu membedakan pasien-pasien tersebut dari yang mengidap SLE. Sekitar 10 % dari pasien lupus mengalami kondisi ini. Ketika ciri-ciri internal juga memperlihatkan dan memenuhi kriteria ACR menyebut kondisi ini dengan systemic lupus erythemtosus (SLE).

Penderita lupus SLE yang memiliki Ciri dan Kriteria Penyakit Lupus seperti tekanan mental, kecemasan, sakit saat menghirup napas dalam, demam, pembengakkan kelenjar, dan tanda-tanda pembengkakan tulang sendi atau ruam tetapi yang organ dalamnya tidak terkena (misalnya, jantung, paru-paru, ginjal atau hati) dianggap mengidap penyakit non-organ (non-organ-threatening disease). Data statistik memang berbeda-beda. Pasien dengan penyakit non organ memiliki harapan hidup yang normal dan tidak lazim bagi mereka untuk terkena penyakit pada organ-organ utama setelah 5 tahun pertama mengidapnya.

Ciri dan Kriteria Penyakit Lupus

Ciri dan kriteria penyakit lupus yang muncul pada sistem kardiovaskular adalah penyakit perikardial, yang bisa berbentuk perikarditis yang ringan, efusi pada perikardial sampai terjadinya suatu penebalan pada perikardial. Selain itu, miokarditis yang juga ditemukan pada sekitar 15% kasus, yang kebanyakan ditandai dengan takikardia, aritmia, interval PR dengan memanjang, kardiomegali sampai terjadinya penyakit gagal jantung. Endokarditis Libman-Sachs, yang seringkali tidak bisa didiaganosa di dalam klinik, namun pada data autopsi bisa mendapatkan sekitar 50% enderita penyakit lupus yang disertai juga dengan terjadinya penyakit endokarditis Libman-Sachs. Adanya suatu vegetasi pada katup jantung yang disertai dengan demam yang bisa diduga kuat kemungkinan dari terjadinya endokarditis bakterialis. Wanita dengan kasus penyakit lupus mempunyai resiko mengalami penyakit jantung koroner sebesar 5-6% lebih besar dibandingkan dengan wanita yang normal. Pada wanita yang berusia sekitar 35-44 tahun, resiko ini akan menjadi semakin tinggi bisa mencapai 50%.

Ciri dan kriteria penyakit lupus yang menyerang paru-paru, sifatnya lebih kepada subklinik sehingga foto thoraks dan juga spirometri yang harus dilakukan pada penderita penyakit lupus dengan gejala seperti batuk, sesak nafas, atau terjadinya suatu kelainan respirasi lainnya. Pleuritis dan juga nyeri pleuritik juga bisa ditemukan pada sekitar 60% kasus. Dan pada efusi pleura juga bisa ditemukan pada skeitar 30% kasus, namun biasanya terjadi dengan ringan dan terjadi secara klinik serta tidak bermakna. Fibrosis intersititial, vakulitis pada paru, dan juga penyakit pneumonotis yang bisa juga ditemukan pada sekitar 20% kasus, namun secara klinis biasanya seringkali masih sulit untuk dibedakan dengan penyakit pneumonia serta penyakit gagal jantung kongestif. Penyakit hipertensi pulmonal yang biasanya sering dideteksi pada pasien dengan kasus antifosfolipid. Pasien dengan kasus nyeri pada pleuritik dan juga penyakit hipertensi pulmonal harus mendapatkan evaluasi pada suatu kemungkinan sindrom antifosfolipid dan juga emboli paru.

Kelainan ginjal yang terjadi pada penyakit lupus harus dilakukan dengan cara menilai adanya atau tidak penyakit hipertensi, urinalisis untuk bisa melihat proteinuria dan juga silinderuria, ureum dan kreatinin proteinuria kuantitaif dan juga klirens kreatinin. Dan secara histologik, WHO sudah menetapkan pembagian dari nefritis penyakit lupus menjadi 5 kelas. Pada pasien kasus SLE de3ngan hematurian mikroskopik dan juga proteinuria dengan terjadinya kasus penurunan pada GFR harus lebih dulu mendapatkan suatu pertimbangan untuk melakukan biopsi ginjal.

Pemeriksaan yang dilakukan pada penyakit lupus adalah salah satunya pemeriksaan autoantibodi. Proses darii patogenik dalam setiap penyak yang juga tidak terlepas dari hubungannya dengan proses imunologik, baik yang terjadi secara spesifik atau juga non spesifik. Hubungan ini pastinya terlihat lebih nyata pada penyakit autoimun dan termasuk salah satu yang ada di dalamnya penyakit lupus adalah, penyakit arthritis reumatoid, sindroma Sjogren dan lain sebagainya. Adanya suatu antibodi yang termasuk autoantibodi yang lebih sering digunakan dalam usaha untuk membantu menegakkan diagnosis ataupun evaluasi dari terjadinya suatu perkembangan penyakit serta terapi yang digunakan.

Pembentukan dari autoantibodi cukup lebih kompleks dan juga belum ada satu atau kajian yang bisa menjelaskan dengan lebih utuh mengenai mekanisme dari patofisiologisnya. Dan demikian juga halnya dengan masalah yang terjadi pada otominunitas. Pada kasus masalah yang terakhir, dikatakan akan terjadi suatu kekacauan dalam sistem toleransi imun dengan hubungan pada sentral T helper dan juga menimbulkan banyaknya dugaan antara lain adalah modifikasi dari autoantigen, kemiripan atau juga mimikro dari molekuler antigeni serta epitop sel-T, cross reactive peptide pada kasus epitop sel-B, mekanisme bupass idiopatik, dan aktivasi dari poliklonal serta hal lain sebagainya.

Di sisi lain, keterlibatan jantung, paru-paru, ginjal atau adanya kelainan hati atau darah mengindikasikan bahwa penyakit organ (organ-thereatening disease) sedang bekerja. Ini mungkin bisa mematikan jika pasien tidak ditangani dengan obat-obatan kortikosteroid (steroid alami) atau pengobatan lain. Sebanyak 35 % pasien lupus termasuk dalam kategori ini.

 Ciri dan Kriteria Penyakit Lupus

Cara Pemesanan Jelly Gamat Obat Penyakit Lupus
Membantu Pengobatan Penyakit Lupus dan Mengurangi Gejalanyajelly-gamat-luxor

Harga 1 Botol Jeli Gamat Luxor Obat Penyakit Lupus Isi 350 ml = Rp. 265.000,-/botolpesansp

Cara Pemesanan: SMS ke 0852-1617-3280, tuliskan : Pesan Jeli Gamat Luxor Obat Penyakit Lupus, Jumlah Botol, Nama Anda dan Alamat Kirim Lengkap


=====================================

>>> Jeli Gamat Luxor Untuk Mengatasi Penyakit Penyakit Lupus dan Penyakit Lainnya, Klik Detail Disini!
=====================================


This entry was posted in Penyakit Lupus and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Comments are closed.